Itinerary Pendakian Gunung Slamet via Bambangan 2016

Sendiri itu indah, berdua seharusnya lebih baik. 

Banyak yang pertama di perjalanan ini. Gunung Slamet menjadi pendakian pertama saya, dan saya harap sekali-kalinya, yang saya lakukan sendirian. Ya, sendirian. Sebegitu kesepiankah saya? Tidak. Introvert akut sehingga tidak punya teman? Tidak juga. Nyari pesugihan ya, sendirian biar ngga ada yang ngerecokin? Hell no!

Sendirian boleh, kesepian jangan. Kutipan yang saya comot dari profil IG teman saya itu menjawab pertanyaan pertama. Dari beberapa teman saya yang saya ajak, banyak yang tidak bisa ikut: ada yang tidak dibolehkan oleh kakak perempuanya karena dia anak laki-laki satu-satunya dan belum kawin (sebenarnya tidak perlu saya tulis sedetil ini sih), ada yang pada tanggal yang sama mendaki ke Semeru walaupun tidak sampai puncak (I heart you brah), dan beberapa teman lain dari lingkaran sosial yang baru yang juga tidak bisa ikut. Jawaban pertanyaan kedua cukup panjang ya. Menjawab pertanyaan ketiga, KALO MAU SUGIH YA KERJA YANG CERDAS DAN KERAS!

Pertamax's Yang Lain

Pendakian ke gunung Slamet ini juga merupakan pendakian pertama yang saya dokumentasikan secara penuh. Dokumentasi berupa video saya buat menjadi 3 bagian, saya sematkan diakhir postingan ini. Karena akan mendaki sendirian, saya menjadi paranoid dan ketularan penyakit akut para wanita: belanja. Saya tebus tenda baru, matras baru, rantang TNI baru, nesting bulat baru, jam tangan baru, ukulele (murah) baru, pisau lipat baru, celana pendek baru, tempat telur baru, kaos kaki baru, sandal gunung baru dan beberapa printilan-printilan baru yang lain. Yeay!!! How I love being single! Baiklah, itu lebih karena paranoid sih. Karena:
Di dunia yang serba tidak pasti, hanya paranoid yang akan bertahan hidup.

Itulah beberapa pertamax pada pendakian ini.

The Journey Starts From: Kos-kosan

Saya berangkat dari Jakarta hari Kamis siang, sekitar jam 1. It was a long weekend. Tanggal 5-6 Mei 2016 lagunya Tulus, tanggal merah. Salah dua teman saya yang saya ajak menjadikan tanggal merah ini menjadi alasan untuk tidak ikut. "Sayang liburnya", katanya. "OK fine!", batin saya.

Terminal Kampung Rambutan masih menjadi favorit saya untuk menuju ke gunung-gunung di pulau Jawa. Dari kos saya di Palmerah, Jl. Komplek Sandang, Blok G1 RT 001 RW 011
Kemanggisan, Palmerah
Jakarta Barat
17480, saya memesan ojek-on-demand-karya-anak-bangsa-yang-mayoritas-sahamnya-dimiliki-venture-capital-asing-dan-aplikasinya-gosipnya-dikode-oleh-programmer-dari-india , Go-Jek. Saya diantar sampai halte busway terdekat, halte Slipi. Dari situ naik busway, sejauh ini transportasi terbaik di Jakarta, sampai ke Kampung Rambutan.


  • Kosan - Halte Slipi = Rp 12.000,00 (powered by Gojek)
  • Halte Slipi - Kp. Rambutan = Rp 3.500, 00 (powered by PT Transportasi Jakarta)


The Road to Bambangan

Asumsi saya benar: libur panjang, ramai terminal seperti libur lebaran. Bus terbaik untuk menuju ke Jawa Tengah dan sekitarnya adalah PO. Sinar Jaya. Ekonomis secara harga, tepat waktu secara jadwal. Setidaknya saya belum pernah mengalami pengalaman buruk dengan armada ini. Bus jurusan Purwokerto satu-satunya yang tersisa sore itu menunggu di terminal antar provinsi Kampung Rambutan. Tampak beberapa grup pendaki juga sudah berada di sekitar bis. Langsung saya masukkan carrier ke bagasi dan masuk mencari tempat duduk. Bus Sinar Jaya ini tidak membuka loket, sehingga tiket langsung di beli di dalam bus. Biasanya tiket dibeli di loket khusus pada hari keberangkatan. As I said previously, this is a special occasion: long weekend.


  • Kp. Rambutan - Terminal Purwokerto = Rp 55.000,00 (powered by PO. Sinar Jaya)

Wisata kuliner di pool Sinarjaya

  • Popmie = Rp 10.000,00 (powered by PT Indofood Sukses Makmur Tbk)
  • Sekoteng = Rp 7.000,00 (powered by bakul sekoteng)



Diperjalanan saya disuguhi perbincangan dengan seorang bapak-bapak yang (katanya) jaman mudanya dulu juga suka naik gunung. Awal ceritanya membuat saya tertarik untuk menjadi pendengar yang baik. Namun lama-kelamaan perbincangan itu tidak menarik. Adalah adanya hal-hal mistis blah blah blah blah blah blah dalam cerita beliau. Saya lupa beberapa detil ceitanyanya. Namun sontak saya merasa seperti sedang menonton acara TV serius (katakanlah Mata Najwa atau the GOlden Ways), lalu tiba-tiba saluran TV diganti oleh emak menjadi sinetron Ind*si*ar yang ada naga-naga terbang menyemburkan api. Dengan sopan saya pura-pura tertidur. Case closed.

Pagi-pagi buta, baiklah tidak terlalu buta, jam 6 pagi saya sampai di terminal Purwokerto. Saya langsung menuju ankutan kota (Elf) menuju pertigaaan Serayu. Ngetem sebentar, angkot berjalan menuju terminal Purbalingga. Agak awkward, karena saya satu-satunya yang membawa carrier di angkot itu. Tapi tak apalah, setidaknya mereka penumpang-penumpang yang lain berbicara bahasa-bahasa yang saya mengerti. Lha kepriben maning sih???

Baru sebentar keluar terminal Purbalingga, si Elf berhenti di pinggir jalan. As I guessed, di oper. Sedih emang kalau di oper-oper. Please pak sopir, ini orang bukan bola, main oper-oper aja. Tapi setidaknya tidak ditagih ongkos lagi sih.

Sampai di pertigaan Serayu, sudah banyak pendaki yang sedang antri menunggu diangkut ke basecamp. Mobil yang mengangkut pendaki sudah terorganisir secara rapi, menunggu satu mobil penuh lalu bergantian dengan mobil-mobil yang lain. Alternatif lain bisa naik ojek dari pertigaan ke basecamp Bambangan, ongkos sekitar Rp 30.000,00. Catatan: tidak ada Gojek ya di Purwokerto.

Sampai basecamp saya packing ulang sambil menambah logistik. Saya beli 2 botol air mineral dibasecamp, karena konon sumber air sulit (yang ternyata benar). Setelah sarapan di warung penduduk, saya mengurus simaksi dan memulai pendakian sekitar jam 08.30. Ada 2 orang pendaki yang mengajak mendaki bersama, tapi saya akhirnya mendaki duluan. Saya ingin sendiri.


  • Terminal Purwokerto - pertigaan Serayu = Rp 25.000,00 (powered by Elf, ini sebuah mobil, bukan salah satu spesies dalam trilogi the Lord of the Ring)
  • Pertigaan Serayu - Basecamp = Rp 20.000,00 *perkiraan, lupa broh (powered by Suzuki Carry)
  • Simaksi = Rp 15.000,00 *perkiraan juga ini,



Tips:
- Kalau bisa naik bis jurusan Purbalingga saja, karena angkot dari terminal Purwokerto menuju ke pertigaan Serayu juga lewat sini. Correct me if I'm wrong.
- Kalau ada bis jurusan terminal Serayu lebih baik, karena bisa langsung turun di pertigaan Serayu. Saya tanya beberapa pendaki yang turun di pertigaan Serayu menggunakan bis Sinar Jaya juga, namun mereka tidak naik dari Kampung Rambutan.
- Always be prepared.

The Stairway to Heaven

Karena mendaki sendiri, beban yang seharusnya di bagi bersama dalam satu kelompok sekarang harus saya pikul sendiri. Yang paling terasa adalah tenda. Tenda adalah salah satu komponen yang paling berkontribusi terhadap berat carrier. Yang kedua adalah logistik: air, bahan makanan, nesting. Walaupun tidak membawa beras, logistik juga memberi kontribusi yang cukup memberatkan. Dan sumber kerempongan lainnya adalah ukulele. Kenapa juga saya bawa-bawa ukulele??? "Derita loe!", kata anak gaul Jakarta. "Ya ben lah", bathin saya.
Perjalanan mendakinya tidak saya deskripsikan secara detil ya, tonton saja videonya.
Semula, target saya adalah camping di pos 7, sedekat mungkin dengan puncak. Sebuah target yang ambisius, karena sejak dari pos 4 (pos Samaranthu) para pendaki lain sudah mewanti-wanti supaya mencari campsite secepat mungkin. Semakin naik mendekati puncak, campsite yang tersedia semakin berkurang karena banyaknya pendaki. Dan memang itu benar. Selepas pos 5, saya sudah kehabisan tenaga. Pun gerimis turun. Menambah keengganan saya untuk melanjutkan naik ke pos 7.
Karena takut tidak mendapat campsite yang memadai, tepat di pos 6 saya memutuskan untuk mendirikan tenda. Agak mengambil jalur pendakian sih, tapi cukup untuk jalan pendaki yang akan naik ke pos selanjutnya. Saya mendirikan tenda sekitar pukul 5 sore, dibantu oleh pendaki asal Tangerang, yang sudah terlebih dahulu mendirikan tenda di pos 6. Inilah asiknya di gunung, semua teman. Teman semua.

Summit Attack!

Sekitar pukul 2 dini hari saya bangun untuk persiapan menuju puncak. Oke, kalimat terakhir tadi mirip jingle Akademi Fantasi Indos*ar. Abaikan.

Setelah menghabiskan sup jagung (supported by Royco) campur sayur mayur, saya naik ke puncak jam 3 dinihari. Perjalanan sampai puncak saya tempuh selama 2 jam. Sendirian. Tanpa tunggu menunggu, tanpa kompromi dengan orang lain, tanpa "ga enak ah kecepetan", dengan menakar kemampuan sendiri, dengan membawa beban seminimal mungkin. Egoisme dalam bentuknya yang paling sempurna. "Saya" yang lain muncul. Mungkin saya yang sebenarnya. Abaikan lagi.

Saya sampai di puncak Slamet jam 5.00. Kepagian. Lebih baik daripada kesiangan.



Dalam mendaki gunung, jika puncak adalah bonus, maka melihat matahari terbit di puncak gunung adalah bonusnya bonus. Kalau kalian mendapat bonus semacam itu, berarti kalian termasuk orang-orang yang beruntung. "Apa itu keberuntungan?", tanya kalian. Bagi saya, keberuntungan adalah saat persiapan bertemu dengan kesempatan. Keberuntungan itu bisa diciptakan. Kids, create your own luck.

Saya turun sedikit dari puncak untuk melihat kawah. Kembali ke puncak, lalu turun dari puncak Slamet sekitar jam 7.00. Perjalanan turun selalu lebih cepat dari perjalanan naik. Saya tempuh dalam waktu 1 jam untuk sampai ke tenda di pos 6.
Cooking time! Menu yang saya persiapkan sejak awal: french toast. Not bad, walaupun percobaan pertama menjadikan roti yang dicelupkan dalam adonan susu dan telur berakhir menjadi bubur dalam penggorengan! Belajar dari kesalahan adalah proses yang sangat menyenangkan. Percobaan kedua dan ketiga berhasil membentuk french toast sempurna seperti yang diajarkan video YouTube yang saya ikuti. Ibu Sisca Soewitomo pasti bangga melihat hasil memasak saya.

Tips: seperti hati seorang melankolis, roti itu mudah hancur, jangan di rendam terlalu lama dalam adonan susu dan telur!

Turun Gunung

Perjalanan turun waktu itu sangat menyedihkan: hujan mengubah trek tanah yang licin menjadi aliran lumpur yang membelepotkan. Dua keputusan bodoh yang saya ambil dan saya sadari setelah sampai di basecamp: 1. saya seharusnya tidak mengganti sepatu dengan sandal; 2. saya seharusnya tidak membawa ukulele!. Track yang licin membuat sandal adalah komponen yang buruk untuk berjalan. Licin. Sloppy. Keputusan bodoh saya bermuara kepada salah satu keputusan terbaik saya: mengganti sandal dengan sepatu sebelum hujan semakin deras. Tetap, ukulele tidak bisa terlindungi dari hujan secara sempurnya. Dan ajaibnya, dia tetap baik-baik saja. You're the man, Ukulele.

Saya sampai di basecamp sekitar jam 5 sore. Sudah banyak pendaki yang turun. Kondisi saya sudah belepotan lumpur. Setelah bersih-bersih di warung depan basecamp, sepatu dan jas hujan saya tinggal karena sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Sebuah legitimasi untuk membeli sepatu baru pada pendakian selanjutnya (pendakian guntur segera hadir).


Kembali ke Peradaban

Saya tidak punya rencana yang detail tentang bagaimana saya akan kembali ke Jakarta. Di warung tempat bersih-bersih, saya bertemu dengan rombongan asala Jakarta Utara yang akan menuju ke terminal Purwokerto. Kami bersekutu. Setelah sampai ke terminal Purwokerto, bersama rombongan dari Jakarta Utara tadi, kami menghadapi kenyataan buruk: tidak ada bus ke Jakarta malam ini. Bus paling cepat adalah keesokan harinya. Saya tidak mau menunggu terlalu lama, istirahat terbaik tetaplah tempat tidur!
Dalam keputusasaan, ada rombongan lain yang hendak menggunakan travel dan masih bisa memuat satu orang. Egoisme saya kembali muncul. Toh, saya tetap tidak ikut rombongan manapun, walaupun saya ikut rombongan dari basecamp ke terminal Purwokerto. Alhasil, saya tebus tiket travel seharga Rp 150.000,00. Tentu saja saya berpamitan dengan rombongan dari Jakarta Utara tadi. Semua bisa dibicarakan.


  • Basecamp - terminal Purwokerto = Rp 50.000,00 (powered by Suzuki Carry)
  • Terminal Purwokerto - kosan = Rp 150.000,00 (powered by travel)


Mobil travel mengantarkan saya sampai depan gerbang kos.
Pukul 6 pagi, Minggu.
Tukang sayur masih menjajakan dagangannya di depan kos.
Tukang bubur sedang sibuk melayani pelanggan.
Sesekali terdengar kicau burung di kejauhan.
Nasi uduk langganan sudah menunggu.
Selamat datang kembali di peradaban manusia!

Temui saya di:

Facebook https://goo.gl/HuwxAB
Twitter https://goo.gl/Z6QEO6
Google+ https://goo.gl/s52kLj
YouTube https://goo.gl/cbkcHg
SoundCloud https://goo.gl/Ha74Er
Instagram https://goo.gl/K5yWSD


0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © 2010 @setoelkahfi All Rights Reserved

Design by Dzignine